Bimbang

ini hanyalah etika sederhana tetang bagaimana menikmati secangkir kopi ia begitu hangat dan menghangatkan menikam lara mengusir penat membuatu tampak luput dari hingar bingar duniawi imajinasi membantuku merefleksikan diri dan merumuskan masalah menjadi kepingan kisah dalam bingkai filosofi kopi.

gravitasi terus menarik hasrat ku untuk tetap kritis membuatku mengerutkan kening dan tampak penuh tanya mungkinkah alam semesta sedang bergurau sementara nalar ini terkadang begitu khianat terhadap rahasia ilahi, jika kerja keras adalah suatu keniscayaan dan kesuksesan ganjaran nya, lantas mengapa semuanya sangat ironis bukankah rezeky itu bekerja mengikuti algoritma usaha dan doa, sementara aku tidak memiliki hak istimewa untuk merasa bangga dan pantas menerima pekerjaan ini, aku hanya bersikap ambigu dalam situasi yang tampak paradoks, sungguh sebuah ironi yang meninggalkan kesan mendalam, 

kau tau ini hanya sebatas ungkapan klise sebagai seseorang yang beretika, setidak nya aku bukan seorang pengecut yang berani berangan angan tanpa mengambil risiko meskipun sesekali aku tangguh lalu jatuh terkadang sampai meninggalkan jelaga di diantara bara api yang menyala membuatnya ketus dan murka tentu saja menjadi bukti yang cukup bahwa jiwa ini telah letih membendung beban moral yang pelik aku hidup tanpa benar2 merasakan hidup dan senang tanpa benar2 merasakan bahagia diam ku dan diam nya adalah sebuah isyarat bahwa kami terbentang cukup jauh dalam sebuah kasta sosial yang berbeda entah bagaiaman caraku meletakan sikap dan menyulam kembali sebuah hubungan yang sempat koyak senja pun tiba mengakhiri sebuah histori dibalik drama secangkir kopi.

Comments