Kecerdasan adalah kemampuan spesifik yang terkontruksi pada banyak bidang keahlian, bukan kemampuan general dan harus di standarisasi. padahal menurut Seorang pakar pendidikan dari Universitas Harvard, Amerika Serikat, Thomas Armstrong mengungkapkan, ada delapan jenis kecerdasan anak menurut teori Multiple Intelligences Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh pakar pendidikan yang juga dari Universitas Havard, Howard Gardner.,
Bisa kah milyaran manusia dari berbagai penjuru dan latar belakang mengadaptasi dan mengimplentasikan sistem pendidikan yang kaku baik secara konseptual maupun praktikal pastilah tidak karena setiap individu memiliki keunikannya tersendiri dalam belajar dan mengolah informasi. apakah ikan mampu memanjat sebagai mana kucing lalu ada rusa, kerbau, kudanil dan gajah disana bisakah mereka melakukan hal yang serupa seperti kucing tsb.
ini adalah analogi sederhana yang merefleksikan sistem pendidikan yang ada lalu bagaimana mungkin pendidikan mainstream yang katanya terintegrasi dengan nilai-nilai holisitik jika kenyataan nya masih ada pelecehan hukum dan pengangguran yang mendominasi, bukan malah melahirkan prestasi moral, bukankah pendidikan adalah indikator utama yang mewarnai sikap dan prilaku seseorang untuk menyelami kehidupan sosial dan budaya.
wajar sekali jika bob Sadino pernah berkali kali mengkritik sistem pendidikan mainstream yang hanya mengajarkan teori - teori yang tidak aplikatif hal itu juga menurutnya menjadi penyebab kenapa di dunia banyak pengangguran sebab orang orang orang hanya diberi teori - teori bukan diasah kreatifitasnya untuk bertahan hidup dalam kesulitan. sementara banyak sekali orang diluarsana yang memacu kompetensinya pada koridor pendidikan konvensional dengan harapan mendapatkan nilai yang sempurna dan sukses dengan mudah.
seolah olah nilai adalah jaminan dan kata kunci yang tepat untuk mendefiniskan kesuksesan, ini adalah hasil olah pikir masyarakat awam yang keliru mengenai konsep kesuksesan itu sendiri, yang sebenarnya tidak relevan dengan esensi pendidikan yang erat kaitanya dengan nilai-nilai holistik, akibatnya banyak orang tua yang cenderung memaksa hingga mengancamnya anak nya untuk mendapatkan nilai akademis yang memuaskan, yang ada hanya menimbulkan masalah psikis bagi sang anak jika anda adalah salah satu orang nya berarti anak anda tidak lebih dari sebuah pion.
lalu bagaimana dengan tokoh inspiratif diluarsana sana yang sukses tanpa harus mengikuti jenjang pendidikan konvensional katakanlah Thomas Alva Edison, Edison yang telah mencatatkan namanya di sekitar 425 paten di bidang lampu dan kelistrikan, sebagai penemu lampu Pijar Edison melakukan instalasi jaringan lampu pertama, tepatnya di New York, padahal Edison pernah keluar dari sekolahnya saat masih kecil. Sebagai penderita diseleksia, karena sulit beradaptasi dengan situasi belajar yang statis. lalu ada Bill Gates sosok pendiri Microsoft dan masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia yang tidak lulus dari Harvard University jadi bodohkah mereka anda bisa jawab sendiri dengan tegas !
pada akhirnya tidak ada kebodohan yang bersifat absolut lagipula bagaimana mungkin tuhan yang maha sempurna sang maha karya menciptakan mahluknya dengan kecacatan. dan yang perlu digaris bawahi adalah nilai akademis bukanlah tujuan akhir dari sebuah pendidikan. memang apa artinya sebuah pencapian akademis yang memuaskan jika tidak ada kontribusi yang nyata dalam kehidupan. jika anda menolak pernyataan di atas dan tetap angkuh dengan pencapain akademis yang telah anda raih maka ini adalah saat yang tepat untuk menghibur saya dalam detik detik menuju puncak pergantian tahun 2020.
Comments
Post a Comment